Risiko Bisnis: Jenis, Contoh, dan Cara Mengatasinya


Kegiatan usaha pastinya tidak dapat dipisahkan dari sebuah risiko bisnis, apalagi jika usia bisnis kamu sudah berjalan cukup lama. Dinamika bisnis baik yang berasal dari dalam (internal factor) maupun dari luar (external factor) turut menjadi faktor risiko usaha. Simak artikel ini untuk mengetahui jenis risiko usaha serta cara mengatasinya. 

Apa Itu Risiko Bisnis? 

Risiko usaha atau disebut juga risiko bisnis adalah dampak atau konsekuensi yang akan diterima saat berlangsungnya suatu kegiatan bisnis. Hal tersebut berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap penurunan besaran keuntungan, maupun keuangan dari sebuah perusahaan. 

Meskipun begitu, mayoritas pengusaha akan selalu mengantisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi dari sebuah kegiatan bisnis. Pengambilan keputusan yang tepat serta memiliki strategi yang matang dapat menurunkan risiko usaha yang mungkin terjadi pada sebuah kegiatan bisnis. 

Pemilik usaha kadang memang harus mengambil risiko ‘terburuk’ yang ada untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, dibandingkan tidak mengambil risiko sama sekali yang malah dapat membuat bisnis jadi mandek atau ‘stuck’

Jenis-Jenis Risiko Bisnis

Berikut ini beberapa jenis risiko usaha yang paling umum dialami dalam menjalani sebuah bisnis, baik skala besar atau kecil: 

1. Risiko Pasar 

Perkembangan zaman terus menuntut terjadinya proses perubahan pasar yang terus berganti-ganti. Transformasi menuju teknologi digital mempercepat perubahan yang terjadi pada customer behaviour, trends, maupun beberapa hal lain yang tidak dapat dibendung oleh pelaku bisnis. 

Selain itu, kecenderungan kelompok konsumen yang di usia muda saat ini mengalami perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan kelompok konsumen usia muda yang belum terpapar oleh digitalisasi maupun globalisasi. 

Sebagai contoh, tren usaha es kepal milo menjadi viral di Malaysia dan tentu ramai diperbincangkan di Indonesia. Lalu, beberapa pengusaha dan UMKM di Indonesia mulai menjualkan produk es kepal milo dengan variasi topping maupun penyajian yang berbeda-beda.

Strategi pemasaran dan penjualan ini berhasil menarik konsumen yang penasaran akan produk tersebut. Tidak berselang lama, ternyata konsumen beralih lagi dengan produk yang lebih baru dan viral di sosial media. 

Kerugian yang didapat karena perubahan pasar tersebut dikenal sebagai risiko pasar. Sehingga pengusaha terutama yang melakukan bisnis di pasar yang sensitif terhadap sebuah tren, harus sudah memahami risiko pasar yang akan diterima suatu hari nanti. 

2. Risiko Strategi

Setiap kegiatan bisnis pastinya harus memiliki rancangan strategi yang jelas. Kurang matangnya sebuah strategi bisnis akan berdampak langsung pada peningkatan risiko bisnis yang akan terjadi suatu hari nanti. 

Beberapa strategi bisnis dapat meliputi dari peta persaingan di pasar yang sama dengan usaha perusahaan kamu, maupun hal lain yang berada dalam sisi internal seperti penguatan R&D (Research and Development)—sebuah produk maupun strategi pemasaran yang cocok dengan bidang bisnis yang diusahakan. 

Sebagai contoh, tren Tiktok yang menjadi aplikasi dengan user download terbesar saat ini. Perkembangan strategi yang terdapat di produk aplikasi memberikan sesuatu hal yang baru yang tidak dapat ditemukan oleh kompetitor aplikasi lain. 

Lalu bagaimana dengan Snapchat? Aplikasi berbagi video yang sudah ada dan sempat tren juga. Karena tidak adanya strategi yang baru dan sesuai dengan keinginan konsumen, maka produk itu ditinggalkan dan beralih ke Tiktok yang menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan aplikasi snapchat

Hal tersebut, dikenal sebagai risiko strategi yang diakibatkan oleh perusahaan tidak dapat mengantisipasi perubahan zaman. Efek kerugian sampai eksistensi sebuah perusahaan akan terus menurun, jika tidak mengikuti apa yang diinginkan konsumen saat ini. 

3. Risiko Kredit 

Kemungkinan terjadinya gagal bayar pastinya sangat dihindari oleh pengusaha. Pinjaman kredit usaha maupun proses procurement (pengadaan) bahan baku yang tidak mampu dibayarkan menjadikan kamu mengalami risiko kredit. 

Selain itu, bisa saja terjadi pada karyawan yang melakukan korupsi, penggelapan dana sampai, risiko bangkrut yang tidak diprediksi sebelumnya. 

Analisis keuangan secara menyeluruh dan juga inventarisasi komponen pendukung lainnya dapat membantu kamu memahami risiko kredit yang terjadi di masa depan. Selain itu, menetapkan persenan besaran utang dapat membantu kamu untuk memahami kemampuan bayar utang saat ini. 

4. Risiko Operasional

Kegiatan operasional bisnis merupakan urat nadi dari sebuah kegiatan bisnis. Kegagalan yang sering terjadi, seperti kerusakan mesin produksi, kesalahan manusia, dan beberapa kegiatan lain yang tidak efisien dalam kegiatan produksi harus dievaluasi secara menyeluruh. Beberapa kasus risiko operasional dapat disebabkan oleh lebih dari satu faktor penyebab. 

Sebagai contoh, perusahaan melakukan ekspansi pasar pada sebuah daerah baru. Demi mencapai tujuan tersebut, perusahaan membuka lowongan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pemasaran. 

Setelah 3 tahun beroperasi, terlihat sebanyak 15% staff tidak bekerja secara efisien. Sehingga 15% tersebut menjadi sebuah beban risiko operasional yang terus dibayarkan oleh perusahaan setiap bulannya. 

Evaluasi kinerja maupun proses produksi dapat membantu pengusaha untuk dapat berkembang di masa depan. Selain itu, biaya yang tidak efisien dapat dialihkan menjadi biaya riset dan hal lain yang menunjang kemajuan perusahaan di masa depan. 

5. Risiko Finansial 

Arus kas masuk dan keluar perusahaan merupakan urat nadi keuangan sebuah perusahaan. Bila arus kas keluar lebih besar dibandingkan arus kas masuk, maka akan berakibat pada kerugian perusahaan. 

Selain itu, beberapa hal lain seperti letter of credit (perjanjian pembayaran setelah barang telah sampai) yang terabaikan oleh pihak konsumen (telat bayar) berpotensi terjadinya risiko finansial bagi perusahaan. 

Hutang perusahaan yang sudah mencapai jatuh tempo perlu dibayarkan segera agar tidak berdampak kepada wanprestasi (pengingkaran perjanjian kontrak) kepada pihak debitur. Selain untuk menjaga agar operasional terus berjalan dengan baik. 

Membayar utang yang telah mendekati jatuh tempo akan meningkatkan credit rating perusahaan kamu. Sehingga dapat meminjam lagi dengan besaran uang yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. 

6. Risiko Legal dan Kepatuhan Hukum 

Bila perusahaan kamu melakukan wanprestasi, maka bersiaplah untuk mengalami kerugian yang lebih besar, seperti risiko legal dan kepatuhan hukum. 

Hal tersebut disebabkan oleh pihak debitur melayangkan tuntutan kepada pihak lain dikarenakan terjadi pelanggaran hak yang tidak terpenuhi dalam sebuah kesepakatan kontrak. 

Selain akan berdampak pada terkena hukum perdata, beberapa hal lain yang bisa saja terjadi bila perusahaan kamu tidak mematuhi hukum atau syarat legalitas, seperti: 

  • Penyitaan seluruh aset untuk membayarkan selisih hutang dan bunga yang belum dibayarkan. 
  • Pembatasan kegiatan usaha sementara, sampai keseluruhan atau sebagian besar tuntutan telah terpenuhi. 
  • Pencabutan izin usaha sementara atau permanen sampai putusan pengadilan menetapkan. 
  • Hal-hal lain yang termasuk dalam poin-poin kesepakatan kontrak bersama. 

Perusahaan pun wajib untuk mengikuti peraturan dan undang-undang yang berlaku, seperti kewajiban membayar pajak, BPJS Tenagakerja & Kesehatan, pemberian gaji sesuai dengan UMR, dan beberapa hal yang telah diatur oleh pemerintah harus diikuti sesuai dengan penetapan pada masing-masing poin peraturan. 

Bila diabaikan maka akan berdampak bukan hanya kerugian materi saja, namun bisa berdampak juga pada penutupan kegiatan usaha yang berakibat kerugian menjadi lebih besar daripada yang dibayangkan. 

Patuh terhadap ketentuan hukum yang berlaku untuk menjaga operasional perusahaan tetap berjalan normal seperti biasanya. 

Bagaimana Mengantisipasi Risiko Bisnis yang Terjadi? 

Risiko akan selalu ada ketika melakukan sebuah aksi, begitupun dengan sebuah kegiatan bisnis. Mengantisipasi dan menangani secara langsung risiko tersebut akan meminimalkan dampak yang dirasakan oleh perusahaan maupun bagi pengusaha tersebut. 

Berikut cara mengantisipasi risiko usaha yang telah terjadi:

1. Buat Manajemen Risiko Secara Detail dan Menyeluruh

Penting sekali untuk melakukan mapping (pemetaan) risiko yang akan terjadi bila suatu usaha berjalan. 

Mengetahui sumber pemicu masalah, alur masalah, sampai kepada dampak terburuk akibat risiko usaha itu terjadi harus digambarkan secara detail dan menyeluruh dalam brief manajemen risiko. 

Mempersiapkan orang-orang terpercaya yang bertanggung jawab dalam mengevaluasi secara lebih dalam akan memudahkan kamu untuk meminimalisir terjadinya risiko usaha tersebut. 

Sebagai contoh untuk meminimalisir risiko operasional, maka pengusaha akan mempercayakan orang HR (Human Resources) untuk memastikan tidak terjadinya human error dalam kegiatan produksi. 

Salah satunya dengan mengadakan pelatihan kegiatan produksi dengan user (supervisor ke atas) yang bertanggung jawab pada keseluruhan kegiatan produksi berlangsung. 

2. Bila Sudah Matang, Action Cepat! 

Ada beberapa risiko usaha yang memiliki time bound (batas waktu). Terutama yang berkaitan dengan kredit, finansial, dan juga legalitas. Pengusaha harus bergerak cepat sebelum potensi masalah tersebut berubah menjadi masalah yang faktual. 

Bukan hanya karena akan menjadi ancaman bagi perusahaan, masalah tersebut biasanya akan berdampak kepada masalah yang lebih besar lagi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. 

Tertib secara hukum maupun kontrak merupakan kunci utama dalam mengatasi permasalahan risiko usaha. Selain menjaga agar reputasi perusahaan tetap baik, tertib secara hukum akan memberikan rasa lega tersendiri bagi pengusaha. 

3. Evaluasi Risiko dari Berbagai Lini 

Melihat lebih dalam pada brief manajemen risiko maka pengusaha akan mengenali dan memahami lebih dalam risiko apa yang akan terjadi. Pengusaha akan mengantisipasi dengan berbagai cara, termasuk membandingkan dengan kompetitor terdekat yang di dalam satu industri yang sama. 

Bila perlu, perusahaan akan terus menetapkan sistem produksi, pemasaran sampai manajemen yang lebih efisien dan mendatangkan revenue yang lebih besar. 

Menerapkan sistem digitalisasi dan data oriented dalam mengambil keputusan merupakan kunci keberhasilan sebuah perusahaan untuk tetap maju di zaman sekarang. 

Para pemangku executive stakeholder di sebuah perusahaan harus berpikir maju sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. 

4. Tercatat dan Solusi Terus Dikembangkan 

Seluruh risiko usaha yang terjadi harus tercatat secara rapi dan detail untuk dipelajari oleh pengusaha. Selain itu, biasanya catatan tersebut dapat membantu pengusaha untuk mengidentifikasi solusi apa yang sesuai dengan risiko usaha yang terjadi.

Di sini lah kemampuan pengusaha untuk peka dalam sebuah risiko usaha agar operasional perusahaan tetap berjalan. 

Semakin sering mengidentifikasi risiko usaha yang terjadi, maka akan menemukan berbagai solusi untuk menyelesaikannya. Sehingga dari waktu ke waktu, perusahaan terus bertumbuh dan beradaptasi langsung dengan risiko-risiko usaha yang terjadi di masa depan. 

Bahkan bukan tidak mungkin, melebarkan sayapnya di lini industri yang berbeda dari sebelumnya dikarenakan telah melihat potensi keuntungan di lini industri yang berbeda. 

5. Terus Belajar dan Mencari Strategi Bisnis 

Mengingat tren jualan online, kamu juga harus adaptasi dan upgrade bisnis kamu ke arah digital. Silakan bergabung dengan e-commerce, sosial media, dan website toko online untuk mempromosikan dan menjual berbagai produk dengan jangkauan yang lebih luas. 

Salah satu cara mengoptimalkan bisnis adalah dengan buat toko online profesional Praktisidigital. Cara daftarnya mudah dan gratis! Kamu bisa mulai bisnis online agar tidak ketinggalan tren, menyesuaikan kebutuhan konsumen, dan pastinya praktis! 

Mengenali jenis risiko bisnis yang terjadi akan memudahkan perusahaan kamu untuk tetap eksis di masa depan. Selain memastikan kelangsungan sebuah usaha, mengantisipasi risiko usaha dapat membuat sebuah usaha terus berkembang di masa depan.