Fixed Cost dan Variable Cost: Arti, Perbedaan, Contoh, dll


Umumnya terdapat dua jenis pengeluaran biaya dalam istilah keuangan bisnis, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Temukan penjelasan lebih lengkapnya pada artikel ini. 

Apa Itu Fixed Cost

Fixed cost adalah biaya tetap yang wajib dibayarkan oleh sebuah kegiatan usaha/perusahaan yang dilakukan secara konstan dan besarannya tidak berubah signifikan–meskipun terjadi peningkatan maupun penurunan produktivitas kegiatan usaha/perusahaan. 

Tujuannya adalah memberikan gambaran jelas besaran biaya yang harus dibayarkan oleh pengusaha. Biaya tetap pada periode waktu pendek mungkin saja tidak mengalami perubahan harga signifikan. 

Tidak terkecuali apabila terjadi faktor eksternal yang mempengaruhi sebuah harga, seperti resesi, goncangan politik, maupun perkembangan ekonomi makro di sebuah negara. 

Bagi pengusaha, biaya tetap yang bersifat tetap dan stabil sehingga pembayarannya dapat diantisipasi dengan melakukan alokasi anggaran yang baik untuk setidaknya biaya yang dikeluarkan tetap stabil. 

Berjalannya sebuah industri pastinya membutuhkan laporan keuangan yang sehat. Bila diabaikan maka akan mengganggu kelangsungan sebuah kegiatan usaha dan operasional didalamnya. 

Laporan keuangan yang sehat harus memerhatikan besaran pengeluaran yang wajib dibayarkan pada tempo tertentu. 

Jenis Fixed Cost

Fixed cost dalam ilmu akuntansi terbagi menjadi dua jenis. Berikut penjelasan lengkapnya: 

1. Committed Fixed Cost

Committed fixed cost adalah biaya tetap yang sudah memiliki ketetapan mutlak dan sudah disepakati untuk tetap ada dalam kondisi apapun. 

Jenis biaya tetap ini harus dikeluarkan dalam periode waktu tertentu untuk menjaga kelangsungan dan kestabilan sebuah kegiatan usaha. 

Committed fixed cost juga berkaitan erat dengan pengeluaran sumber daya manusia dan struktur organisasi didalamnya. 

Saat perusahaan mengalami kebangkrutan maka ada biaya yang harus dikeluarkan. Sehingga committed fixed cost harus dikeluarkan untuk mematuhi ketentuan perundangan yang berlaku di sebuah negara. 

2. Discretionary Fixed Cost

Discretionary fixed cost adalah biaya tetap yang dikeluarkan secara situasional dan bersifat fleksibel, sesuai dengan kondisi maupun waktu tertentu. 

Biaya yang dikeluarkan harus tidak berdampak secara nyata terhadap perolehan laba yang dihasilkan. 

Umumnya perusahaan menetapkan discretionary fixed cost atau biaya diskresioner dalam rasio yang kecil, dibandingkan dengan committed fixed cost

Apalagi saat perusahaan mengalami kerugian maupun penurunan laba yang dapat mengganggu kelangsungan operasional usaha. 

Contoh Fixed Cost 

Umumnya ada terdapat beberapa biaya tetap yang wajib dibayarkan oleh pengusaha. Beberapa biaya tetap yang dikeluarkan, antara lain: 

1. Gaji Pegawai 

Pengeluaran gaji biasanya memiliki rasio yang besar dibandingkan dengan biaya lain. Gaji sangat lekat dengan perjanjian antara karyawan dan pelaku usaha. Sehingga peranannya memiliki kekuatan hukum tetap. 

Selain pembayaran gaji, beberapa instrumen yang melekat di dalamnya harus dibayarkan oleh pengusaha, seperti pajak, asuransi, BPJS, maupun biaya pensiun yang telah ditetapkan oleh negara dan wajib untuk dibayarkan setiap bulan nya.

2. Sewa Tempat Usaha 

Bila kamu memilih untuk menyewa sebuah tempat usaha, maka diwajibkan untuk membayarkan tempat usaha tersebut untuk menjaga kelangsungan usaha. 

Biaya yang dikeluarkan akan tetap stabil di setiap bulanan/tahunannya. Biasanya membayar untuk jangka waktu panjang akan lebih hemat dibandingkan dengan pembayaran jangka pendek. 

3. Biaya Penyusutan Instrumen Perusahaan

Beberapa barang di dalam instrumen perusahaan akan mengalami penyusutan/penurunan yang konstan. 

Nilai penyusutan tersebut harus menjadi bagian beban perusahaan dan harus dibayarkan oleh perusahaan setiap bulannya. 

Aset atau sering disebut sebagai aktiva tetap yang mengalami penurunan, antara lain:

  • Mesin usaha.
  • Kendaraan operasional.
  • Fisik gedung kantor.
  • Komputer.
  • Jaringan internet.
  • Masih banyak lagi. 

Semakin berjalannya waktu maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar. Sehingga pembaharuan dengan teknologi terbaru harus dilakukan untuk memperkecil biaya penyusutan yang semakin membebani perusahaan. 

4. Beban Bunga

Biaya yang dibebankan akibat terjadi proses peminjaman kepada perusahaan dan dibebankan pada pembiayaan cicilan tiap bulannya. 

5. Biaya Asuransi

Biaya jasa proteksi apabila terjadi suatu hal yang tidak diperkirakan dan merugikan bagi perusahaan. Biaya tersebut dibayarkan sebagai premi asuransi. 

6. Pajak

Iuran yang harus dikeluarkan oleh pengusaha kepada negara untuk memastikan kelangsungan sebuah usaha dan beroperasi secara legal. 

Beberapa biaya pajak yang dibebankan seperti pajak properti, pajak bumi bangunan, biaya cukai, pajak pengusaha dan masih banyak lagi. 

7. Utilitas

Biaya yang wajib dikeluarkan untuk memastikan kegiatan operasional bekerja dengan baik dan lancar. Biaya utilitas yang dibayarkan seperti tagihan listrik, telepon, internet dan sebagainnya. 

Itulah pembahasan tentang apa itu fixed cost, selanjutnya mari pelajari tentang variable cost. Keduanya adalah beban biaya yang harus ditunaikan oleh perusahaan.  

Apa Itu Variable Cost

Variable cost adalah biaya variabel yang dikeluarkan tergantung pada hasil produksi ataupun kondisi/periodik tertentu. 

Biaya variabel merupakan jumlah konstan dengan hasil produksi yang dihasilkan. Pada kondisi tertentu, biaya variabel dapat menjadi beban utama dalam anggaran perusahaan. 

Semakin besar produksi yang dihasilkan maka biaya variabel yang dihasilkan akan semakin besar. Namun bila produksi yang dihasilkan rendah maka biaya variabel yang dikeluarkan pada bulan tertentu akan menurun. 

Ketetapan biaya variabel akan berbeda antara bidang industri satu dengan yang lainnya, selain itu skalabilitas, tingkat produksi maupun aspek pasar akan mempengaruhi biaya variabel yang dikeluarkan. 

Fluktuasi aktiva usaha juga akan mempengaruhi besaran biaya variabel. 

Jenis Variable Cost

Dalam ilmu akuntansi biaya variabel terbagi menjadi empat jenis. Berikut penjelasan lengkapnya: 

1. Direct Cost

Direct cost adalah biaya variabel yang bersinggungan langsung dengan aktivitas produksi.

Biasanya biaya yang dikeluarkan bersifat krusial dan harus dikeluarkan untuk memaksimalkan hasil produksi. 

Contohnya seperti biaya bahan mentah, biaya bahan baku, biaya bahan bakar, biaya distribusi, dan masih banyak lagi. 

2. Variable Overhead Cost

Variable overhead cost adalah biaya variabel yang lekat dengan intensitas perusahaan dalam kegiatan produksi. 

Beberapa biaya yang dibebankan meliputi asuransi kecelakaan kerja, asuransi tenaga kerja, biaya dampak lingkungan, maupun kegiatan revitalisasi sebuah kegiatan usaha.

Variable overhead cost dapat berubah seiring rencana perusahaan dalam menetapkan nilai capaian produktivitas. Sehingga nilai fluktuasinya bersifat tidak tetap. 

3. Semi Variable Cost

Semi variable cost adalah biaya variabel yang memiliki elemen menyerupai biaya tetap (fixed cost) namun dikeluarkan secara kondisional. 

Semi variable cost tergolong biaya minimum yang harus dibayarkan dalam penyediaan jasa dan mengikuti oleh volume kegiatan produksi dalam waktu tertentu. 

4. Ratio Variable Cost

Ratio Variable Cost adalah besaran rasio biaya variabel yang tertera pada laporan keuangan untuk menggambarkan besaran proses produksi yang terjadi pada waktu tertentu. 

Nilai rasio biaya variabel berasal dari persentase penjualan bersih pada periode waktu tertentu. 

Rasio biaya variabel merupakan perbandingan biaya produksi dengan jumlah pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan produksi. 

Besarannya bersifat fleksibel sehingga manajemen dapat menentukan keputusan selanjutnya untuk meningkatkan kegiatan produksi atau tidak. 

Contoh Variable Cost 

Umumnya ada terdapat beberapa variable cost yang wajib dibayarkan oleh pengusaha. Beberapa biaya variabel yang dikeluarkan, antara lain: 

1. Komisi Keuntungan

Kegiatan pemasaran merupakan ujung tombak dari kelangsungan perusahaan. Pegawai yang terdapat di dalamnya dan berkaitan langsung dengan keuntungan perusahaan biasanya dibebankan dengan berbagai target penjualan. 

Saat pegawai tersebut telah melampaui target yang ditetapkan maka terdapat komisi keuntungan yang harus dibayarkan oleh pengusaha. 

Umumnya komisi keuntungan merupakan persentase dari total keuntungan yang dihasilkan. Adapun persentasenya merupakan kesepakatan antara pegawai dan pengusaha. 

Semakin tinggi hasil penjualan yang didapatkan maka biaya variabel yang dikeluarkan akan semakin besar. 

2. Biaya Tenaga Kerja Tambahan/Pekerja Langsung 

Tenaga kerja yang berkaitan dengan kegiatan produksi maka akan menjadi biaya variabel dalam laporan keuangan. 

Tenaga kerja tersebut harus memiliki peranan signifikan dalam meningkatkan hasil produksi yang didapatkan. Umumnya hal tersebut dapat terjadi saat terjadi pada peak season penjualan maupun saat terjadi order yang meningkat. 

Biaya lemburan dapat dimasukan dalam biaya variabel karena terdapat waktu tambahan yang diluar dari jam kerja dan harus dibayarkan. 

Selain itu, saat melakukan perekrutan tenaga kerja lepas maupun outsourcing karyawan biasanya memiliki periode waktu pendek. Sehingga tergolong sebagai biaya variabel. 

3. Biaya Distribusi 

Saat perusahaan melakukan kegiatan ekspor maupun impor maka akan terdapat biaya distribusi yang dianggap sebagai biaya variabel. 

Pihak ekspedisi akan menyesuaikan biaya sesuai dengan jarak tempuh antara wilayah pengirim dan wilayah penerima. 

Biaya yang melekat di dalamnya mungkin saja dapat terjadi seperti biaya pengadaan barang, biaya gudang dan masih banyak lagi. 

Besarnya biaya tergantung jumlah kapasitas yang dikirim dan disimpan dalam waktu tertentu. 

4. Biaya Servis Instrumen Perusahaan 

Beberapa instrumen perusahaan mungkin saja dapat dilakukan pemeliharaan lebih lanjut untuk dapat bekerja dengan optimal. 

Biasanya biaya servis/pemeliharaan disesuaikan sesuai dengan ketentuan dalam manual book alat. Contohnya adalah kendaraan pada jarak tempuh tertentu harus dilakukan pemeliharaan dengan skala tertentu. 

Biaya yang harus dikeluarkan akan tergantung dengan kelemahan/kerusakan dalam instrumen perusahaan. Memelihara secara berkala dan digunakan dengan baik dapat meningkatkan umur pakai sebuah alat produksi. 

Perbedaan Fixed Cost dan Variable Cost 

Beberapa perbedaan antara fixed cost dan variable cost yang dapat diperhatikan, antara lain: 

1. Karakteristik 

Karakteristik fixed cost tergolong biaya stabil/tetap. Sedangkan variable cost tergolong biaya fluktuatif/berubah menyesuaikan dengan kondisi perusahaan. 

2. Waktu 

Ketetapan waktu yang ditetapkan pada fixed cost bersifat tetap/tidak berubah-ubah dalam waktu periode tertentu (condongnya dalam waktu yang panjang). 

Sedangkan variable cost tidak perlu menyesuaikan dengan waktu sehingga variable cost menggunakan ketetapan volume produksi yang dihasilkan pada periode waktu tertentu. 

3. Nilai Persediaan Produk

Nilai persediaan produk/hasil produksi tidak akan terpengaruh dari fixed cost. Sedangkan untuk variable cost akan berpengaruh karena berkaitan dengan nilai produksi yang dihasilkan. 

Hal tersebut dikarenakan akan menjadi biaya yang berubah-ubah tergantung dari kuantitas produk yang dihasilkan. Itulah penjelasan lengkap mengenai fixed cost dan variable cost, serta perbedaan antara keduanya. 

Sebagai seorang pengusaha, memahami dan mengelompokkan rasio fixed cost dan variable cost dengan benar akan memaksimalkan profit yang akan didapatkan. Mencatat laporan keuangan yang terukur dan sistematis dapat mengembangkan bisnis di masa depan. 

Jika kamu ingin mengembangkan bisnis, maka bisa memulai dengan buat toko online melalui Praktisidigital! 

Berbagai fitur penunjang bisnis online yang komprehensif seperti pilihan design website siap pakai yang dapat dipersonalisasi, layanan multi-payment yang terintegrasi dengan seluruh pembayaran resmi di Indonesia, dan masih banyak lagi. 

Kamu cukup klik daftar dan bisa langsung jualan online. Yuk, coba sekarang!